Aqidah Prioritas Utama

Oleh: TIM DAKWAH IT AL KAUTSAR

Kita bersyukur Allah telah menjadikan diri kita menjadi orang yang meyakini bahwa kebenaran ada pada agama yang mulia ini. Yaitu agama Islam, maka kita berharap, bahwa keyakinan ini senantiasa terpatri dalam hati kita sampai akhir hayat.

Maka, sebagai bentuk syukur kita, sudah seharusnya merawat keyakinan/aqidah yang mulia ini sampai akhir hayat dan sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim yang menginginkan mati diatas aqidah ini untuk senantisa memprioritaskan masalah ini dan senantiasa mempelajarinya sampai akhir hayat.

Demikian juga Rasulullah yang merupakan sosok guru terbaik dimuka bumi juga sangat memprioritaskan bab aqidah, bahkan para muridnya menjadi manusia terbaik di bawah pembinaan pendidik terbaik, hingga Mu’âwiyah bin al-Hakam Radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasulullah ﷺ dalam ungkapannya yang indah:

مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ- رواه مسلم
“Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik darinya”. 1

Para sahabat pun menjadi generasi terbaik dibawah asuhan beliau, bahkan beliau mengungkapkan keadaan anak didiknya dengan ungkapan:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka”. 2

Guru terbaik ini juga memiliki kurikulum pembelajaran-manhaj dirosy- terbaik, maka jikalau kita ingin mengetahui bagaimana bentuk kurikulum pengajaran nabi Muhammad ﷺ kepada para sahabatnya, maka kita simak bentuk kurikulum pengajaran beliau melalui penuturan salah seorang sahabat dalam sebuah atsar yang shahih

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا »
Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi ﷺ, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. 3

Kita saksikan bersama bahwasannya Rasulullah memulai dengan menanamkan secara kokoh keimanan kepada jiwa para sahabat sebelum belajar hukum syariat. Hal itu dilakukan dengan cara mengenalkan tentang Rabbnya, nama, sifat dan perbuatan-Nya sehingga tertanam dalam jiwanya pengagungan, penghormatan, pengharapan dan rasa takut kepada Allah serta kecintaan kepada-Nya. Juga ia selalu ingat kepada kematian, kengerian hari kiamat, surga dan neraka serta hari perhitungan (hisab). Memulai dengan sisi pendidikan ini akan mempersiapkan jiwa-jiwa untuk dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta istiqamah diatasnya. Inilah jalan bijak yang disampaikan al-Qur’an dalam pendidikan generasi pertama dan kedua. Hal ini dijelaskan secara gamblang dalam sebuah hadist tentang kurikulum pembelajaran agama yang dijalani para sahabat –semoga Allah meridhoinya, disebutkan dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhory dalam kitab shahihnya pada باب تأليف القرآن.

يُوسُفُ بْنُ مَاهَكٍ قَالَ : إِنِّي عِنْدَ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا إِذْ جَاءَهَا عِرَاقِيٌّ ، فَقَالَ : ” أَيُّ الْكَفَنِ خَيْرٌ ؟ قَالَتْ : وَيْحَكَ ، وَمَا يَضُرُّكَ ؟ قَالَ : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ، أَرِينِي مُصْحَفَكِ ، قَالَتْ : لِمَ ؟ قَالَ : لَعَلِّي أُوَلِّفُ الْقُرْآنَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُقْرَأُ غَيْرَ مُؤَلَّفٍ ، قَالَتْ : وَمَا يَضُرُّكَ أَيَّهُ قَرَأْتَ قَبْلُ ، إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنِ الْمُفَصَّلِ ، فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الْإِسْلَامِ نَزَلَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لَا تَشْرَبُوا الْخَمْرَ ، لَقَالُوا : لَا نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا وَلَوْ نَزَلَ لَا تَزْنُوا ، لَقَالُوا : لَا نَدَعُ الزِّنَا أَبَدًا ، لَقَدْ نَزَلَ بِمَكَّةَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَإِنِّي لَجَارِيَةٌ أَلْعَبُ بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ سورة القمر آية 46 ، وَمَا نَزَلَتْ سُورَةُ الْبَقَرَةِ والنِّسَاءِ إِلَّا وَأَنَا عِنْدَهُ ، قَالَ : فَأَخْرَجَتْ لَهُ الْمُصْحَفَ فَأَمْلَتْ عَلَيْهِ آيَ السُّوَرَةِ

Yusuf Bin Maahak berkata: Suatu ketika, aku berada di tempat Aisyah Ummul Mukminin radliallahu ‘anha, tiba-tiba seorang dari Irak menemuinya seraya berkata, Kain kafan yang bagaimanakah yang lebih baik?”

Aisyah menjawab : Huss kamu, apakah yang menimpamu?
laki-laki itu berkata : Wahai Ummul Mukminin, tunjukkanlah Mushhaf Anda padaku.
Beliau bertanya : Untuk apa?
Ia menjawab :Agar aku dapat menyusunnya, Sebab, Al Qur`an itu dibaca secara tidak tersusun.
Aisyah berkata, Lalu apa yang menghalangimu untuk membaca bagian apa saja darinya. Sesungguhnya yang pertama-tama kali turun darinya adalah surat Al Mufashshal yang di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka.

Dan ketika manusia telah condong ke Islam, maka turunlah kemudian ayat-ayat tentang halal dan haram. Sekiranya yang pertama kali turun adalah ayat : “Janganlah kalian minum khamer”, niscaya mereka akan mengatakan : Sekali-kali kami tidak akan bisa meninggalkan khamer selama-lamanya. Dan sekiranya juga yang pertama kali turun adalah ayat : Janganlah kalian berzina, niscaya mereka akan berkomentar : “Kami tidak akan meniggalkan zina selama-lamanya”.

Ayat yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ di Makkah yang pada saat itu aku masih anak-anak adalah:

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرّ ]القمر:46[
“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” QS: Al-Qomar: 46

Dan tidaklah turun surat Al Baqarah dan An Nisa, kecuali aku berada disisi beliau.
Dia melanjutkan : Akhirnya, beliaupun mengeluarkan Mushhaf dan mendiktekan kepada orang Irak itu beberapa surat. 4
Demikianlah kita dapat melihat bersama bagaiamana pola bimbingan yang dilakukan Rasulullah ﷺ.

Sebelum kita memasuki pelajaran-pelajaran tentang aqidah, kita akan melihat hasil yang sangat nyata dari pola pendidikan Nabi ﷺ yang beliau terapkan kepada para sahabat, dimana masyarakat bangsa Arab memilki karakter yang sangat keras namun melalui pola pendidikan yang tepat mampu mengubah mereka menjadi orang yang sangat berakhlaq mulia, hal terebut ditunjukkan dengan rasa takutnya kepada Allah, berikut ini kita akan saksikan bahwasannya pembelajaran aqidah sangat berpengaruh positif terhadap akhlaq yang mulia:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ بْنِ بَدْرٍ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الْحُرِّ بْنِ قَيْسِ بْنِ حِصْنٍ وَكَانَ مِنْ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجْلِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ يَا ابْنَ أَخِي هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الْأَمِيرِ فَتَسْتَأْذِنَ لِي عَلَيْهِ قَالَ سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَاسْتَأْذَنَ لِعُيَيْنَةَ فَلَمَّا دَخَلَ قَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ وَمَا تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالْعَدْلِ فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ بِأَنْ يَقَعَ بِهِ فَقَالَ الْحُرُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { خُذْ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنْ الْجَاهِلِينَ } وَإِنَّ هَذَا مِنْ الْجَاهِلِينَ فَوَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma : Bahwasannya ‘Uyainah bin Hisn pernah berkata kepada ‘Umar : “Wahai Ibnul-Khaththaab, engkau tidak pernah memberi makanan dan tidak pula menghukumi kami dengan ‘adil”. Mendengar hal itu, maka marahlah ‘Umar hingga ia ingin melakukan sesuatu kepadanya (untuk menghukumnya). Melihat itu, Al-Hurr bin Qais berkata kepada ‘Umar : “Wahai Amirul-Mukminiin, sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya : ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh’ [QS. Al-A’raaf : 199]. Dan orang ini termasuk orang-orang yang bodoh”.

Demi Allah, ‘Umar tidak jadi berbuat sesuatu kepadanya ketika membaca ayat tersebut, dan berhenti semata-mata karena Kitabullah.
Dari atsar diatas dapat kita ketahui bahwa, perubahan akhlaq dan karakter seseorang didapat setelah mereka mempelajari aqidah yang benar.
Dengan aqidah yang benar maka seseorang menjadi orang yang sangat takut kepada Allah, dengan aqidah yang benar seseorang semakin berakhlaq mulia.

Nabi mengungkapkan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlaq sesuai dengan sabda beliau

إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. 5

Adapun cara mendapatkan akhlaq yang mulia dimulai dengan mengajarkan Aqidah sebagai prioritas utama dalam pembelajaran.
Demikianlah keadaan sebuah aqidah, merupakan perkara yang agung dan berkedudukan tinggi. Posisinya kokoh menancap dalam jiwa pemiliknya dan terpendam pada kalbu insan-insan yang meyakininya. Mereka beraktifitas atas dasar aqidah tersebut, dan bersandar kepadanya serta berlomba-lomba karenanya. Statusnya amat tinggi dalam jiwa mereka dan kedudukannya juga tinggi dalam kalbu mereka, sehingga aqidah tersebut tertanam kuat dalam hati mereka dan mantap dalam jiwa-jiwa mereka. Kemudian menghasilkan keshalihan dalam kepribadian, istiqamah dalam jalan hidup dan kesempurnaan dalam amalan-amalan, terbiasa di atas ketaatan dan ibadah serta komitmen dengan perintah Allâh Azza wa Jalla .

Semakin dalam aqidah ini tertancap dalam jiwa mereka dan kian kuat terpendam dalam hati sanubari mereka, maka hal itu menjadi pendorong mereka melakukan segala kebaikan dan penolong bagi mereka meraih segala kesuksesan, keshalihan dan istiqamah. 6
Wallahu’alam .

————————————————————————-
1. HR Muslim no. 836
2. HR al-Bukhâri, 5/191, dan Muslim no. 2533
3. HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih
4. Sahih al-Bukhari 4993
5. Hadits shahih lighairihi ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnad-nya 2/381, Imam Al Haakim dalam Mustadrak-nya 2/613, dan Imam Al Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273
6. (Dari mukodimah makalah berjudul Tsabâtu ‘Aqîdati as-Salafi wa Salâmatuha mina at-thaghayyurâti karya Prof.DR. Syaikh Abdur Razzaq al-badr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 1 =